Posted by: steveadinegoro | January 2, 2009

Catatan Perjalanan: Hunting @ Adisutjipto International Airport

Acara hunting foto pesawat ini adalah ide dari seorang sepupu bernama Enrico Aditjondro. Rencana awal adalah pagi hari tanggal 27 Desember ketika Matahari baru saja berangkat menyinari Jogja. Pencahayaan pagi hari akan sangat membantu pengaturan WB (white balance) dalam pengambilan foto yang baik. Hanya saja ternyata lelah menimpa kami berdua hingga rencana gagal karena kesiangan bangun. Akhirnya hanya karena keinginan kuatlah acara re-schedule menjadi sore hari sebelum Matahari terbenam.

Perencanaan dimulai dengan bantuan Google Earth, di mana dari situ diketahui keberadaan jalanan di sebelah Timur landas pacu. Jalanan itu ternyata tak lain adalah jalan masuk utama menuju AAU alias Akademi Angkatan Udara yang terletak persis di sebelah Selatan Bandara Internasional Adisutjipto. Eksekusi rencana pun dilakukan dengan berangkat dari kediaman di Pringgokusuman pada jam 4 sore waktu setempat. Pemandangan jalanan yang melewati ujung landas pacu ini sangat sesuai harapan. Sungguh suatu kebetulan yang mengenakkan pula bahwa pesawat sore itu mendarat dari arah Timur. Ini berarti pesawat akan dekat sekali dengan jalanan tersebut ketika mendarat. Hanya saja apa yang terjadi berikutnya agak di luar harapan.

Situs pemotretan yang kami pilih pertama adalah sesuai perencanaan tadi di mana mobil pun parkir di pinggir jalan tersebut. Tak lama setelah mobil dimatikan, sebuah mobil bertuliskan “PM” berisi dua orang pun lewat. “Selamat sore pak!” saya pun memberikan salam sambil menunjukkan sikap hormat militer kepada para Polisi Militer tersebut. “Maaf pak, di sana saja, banyak koq yang di sana”, dengan ramah PM tersebut memberi kode untuk berpindah tempat. Demikianlah akhirnya lokasi pemotretan pun terpaksa pindah ke sebuah tempat persis di samping ujung landasan.

Ternyata Bandara berkode IATA: CGK dan ICAO: WARJ ini memiliki tempat pengamatan pesawat yang cukup bagus. Tempat ini hanya berjarak sekitar 200m dari ujung landasan 27L, menjadikan pesawat pun tampak cukup dekat dari pandangan baik ketika akan take-off atau saat landing. Bagaimanapun Enrico tampak kurang puas karena tidak berhasil mengambil gambar persis dari jalanan tadi.

Posted by: steveadinegoro | January 2, 2009

Catatan Perjalanan: CGK – JOG

Perjalanan ke Jogjakarta kali ini adalah yang pertama sejak Desember 2006. Sekali ini saya menggunakan pesawat Garuda Indonesia sebagai sarana pulang-pergi Jakarta – Jogja. Pertimbangan sederhana menggunakan pesawat adalah karena masalah waktu yang cukup terbatas, yaitu antara 25 – 30 Desember 2008.

Saya berangkat pada tanggal 25 Desember 2008 menggunakan penerbangan ke-7 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Adisutjipto. Penerbangan dengan nomor penerbangan GA212 ini menggunakan pesawat dengan registrasi PK-GHX. Para penumpang GA212 boarding tepat waktu menurut standar penerbangan melalui gate F2. Hanya saja acara boarding ini tidak melalui garbarata seperti halnya penerbangan pada umumnya di Bandara berkode IATA CGK ini, melainkan di-remote ke tempat parkir pesawat di samping calon Terminal 3.

Hari Kamis, tanggal 25 Desember 2008 tampaknya menjadi waktu favorit untuk memulai perjalanan luar kota. Cukup masuk akal mengingat berlimpahnya hari libur nasional plus satu hari kejepit nasional, sebutlah Natal pada 25 Desember, cuti bersama pada 26 Desember, hari Sabtu-Minggu pada 27-28 Desember, dan Tahun Baru Hijriyah dan Jawa pada 29 Desember. Tak lupa beberapa hari berikutnya ada Tahun Baru Masehi pada 1 Januari 2009. Alhasil penerbangan pun menjadi padat luar biasa pada hari-hari tersebut.

GA212 yang sekiranya take-off segera setelah taxiing menuju runway pun terpaksa menunggu empat pesawat landing di runway yang sama. Begitu pula nasib dua pesawat di belakangnya yang entah kapan dapat berangkat. “Flight Attendant, take-off position!” demikian kata Captain mempersiapkan penerbangan CGK-JOG yang rencananya berlangsung selama sekitar 50 menit ini.

Penerbangan berlangsung tidak terlalu mulus, tanda sabuk pengaman pun sempat dinyalakan kembali di tengah-tengah perjalanan karena cuaca yang kurang bersahabat.  Awan hampir senantiasa menghiasi jendela selama penerbangan ini. Sebuah gunung sempat tampak di antara kerumunan awan ini. Jika dilihat dari bentuknya, tampak seperti Gunung Sumbing yang terletak di provinsi Jawa Tengah.

Landing di Adisutjipto berlangsung cukup baik. Pesawat masuk melalui runway 09, yang berarti dari arah Barat.

Perjalanan pun saya lanjutkan dengan naik Trans Jogja hingga halte depan Inna Garuda. Setelahnya perjalanan dilanjukan dengan jalan kaki ke Bakso Ateng, dilanjutkan naik becak menuju kediaman Eyang di Jl. Pringgokusuman.

Posted by: steveadinegoro | September 7, 2008

PK-GKJ, Fokker F-28-4000 Fellowship of Garuda Indonesia

I was there at 1988 (photo courtesy of Andy Martin - AirTeamImages)

I was there at 1988 (photo courtesy of Andy Martin - AirTeamImages)

See that aircraft? See the registration? Yes, it is PK-GKJ, Fokker F-28-4000 Fellowship which was owned by Garuda Indonesia Airways. So, what so special with this aircraft with that registration? Indeed, it is so special to me. I don’t know why, but PK-GKJ (in Indonesia pronounced: Pé-Kaa Ghé-Kaa-Jay) is the most remembered aircraft registration in my life. Maybe because this aircraft brought me for the first time to Dili, East Timor or simply because it has the same abbreviation with Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Deep inside my memory, I can only recall one time that I took a flight with PK-GKJ. That is when at I was 6 years old, when our family (my parents and my elder sister) moved to Dili, East Timor from Jakarta. It was the year of 1988 and East Timor was still the 27th province of Indonesia, as it was said “the youngest province of Indonesia”. I also remembered that before I went inside the cabin of PK-GKJ, I was in an Airbus (not sure what type) circling the Mt. Raung above East Java and then landed at Ngurah Rai Bali.

We were then move to the other type of aircraft, the smaller one than the Airbus. What a surprise that this iron bird have the ladder attached to its door. Not only that, the jet engine is not placed below the wing but at the back. Well, that’s it, a Fokker F-28 (now I know the complete name: Fokker F-28-4000 Fellowship).

That F-28, with the registration of PK-GKJ then taking off from Ngurah Rai Intl, Kuta (DPS) to Eltari, Kupang (KOE). We had to make a transit there because it is a small type aircraft. That was the last transit to Comoro, Dili (now Presidente Nicolau Lobato Intl) a small airport that surely only can handle small type of jets.

20 years after that flight, I become an employee at Garuda Indonesia. I told my boss about this PK-GKJ, that I was there 20 years ago. It is said that all F-28 of Garuda Indonesia are decommissioned by now. I heard many story now about this unique iron bird from ex-Flight Attendant. That’s it, PK-GKJ, thanks to Andy Martin who shared this photo in Airliners.net.

Posted by: steveadinegoro | September 7, 2008

Blog Baru, Hidup Baru

Selamat datang dalam blog terbaruku. Yah, ini bukan pertama kalinya aku membuat blog seperti ini. Anda bisa lihat postingan lama saya di:

  • singularity, blog pertama dan terutama, di Friendster (sejak 2006). Aku membuatnya hanya karena Sasa membuat blognya (Blue Siberian). Aku telah tuliskan banyak sekali hal di dalamnya, dari pemikiran2, artikel2, pengalaman, petualangan, dll.
  • Universe, blog keduaku, di blogspot (sejak 2007). Diilhami oleh teman2 dari Dept. Astronomi ITB di mana aku buat untuk berbagi pengetahuan tentang astronomi amatir. Hanya dua post di situ, betapa malasnya daku.
  • Adi’s site, belum jadi blog, di Multiply (sejak 2007). Direncanakan untuk fotografi. Bisa terlihat di sana ada sebuah album dengan 4 foto.

Jauh sebelum blogging menjadi sangat populer, aku telah cukup banyak membuat halaman web menggunakan Macromedia Dreamweaver atau Microsoft FrontPage (pertama aku buat kode HTML menggunakan Notepad!). Aku pernah membuat situs web Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) dan juga situs web pribadi yg mana kini telah ditinggalkan dan hanya digunakan untuk berbagi foto dan file.

Blog Baru, Hidup Baru. Aku pilih judul ini mungkin karena banyak sekali perubahan dalam hidup yg telah terjadi dan aku percaya akan banyak sekali perubahan setelah ini. Blog ini akan menjadi blog utama menggantikan blog lama di Friendster. Semoga berkenan.

- B. Adi Nugroho -

Posted by: steveadinegoro | September 7, 2008

New Blog, New Life

Welcome to my newest blog. Well, it’s not the first time I create blog like this. You can see my posts from the past time:

  • singularity, my first and primary blog, in Friendster (since 2006). I made this simply because Sasa made her blog (Blue Siberian). I wrote so many things there, from my thoughts, articles, experiences, adventures, etc.
  • Universe, my second blog, in blogspot (since 2007). Encouraged by friend of my from Astronomy Department of Bandung Institute of Technology (ITB), I made this in order to share knowledge in amateur astronomy. Only 2 posts until now there, so lazy I am.
  • Adi’s site, not a blog yet, in Multiply (since 2007). I was plan to use this as my site for photography. You can see there is an album now with 4 photos.

Long before webblog became popular, I’ve already made some of web page using Macromedia Dreamweaver or Microsoft FrontPage (at first time I used to code HTML using Notepad!). I made the web site of Jakarta Amateur Astronomy Club (HAAJ) and also the web site of mine which is now abandoned and used to share photos and files only.

New Blog, New Life. I chose this title maybe because there were so many changes in my life and I believe there will be so many changes after this. This blog shall be my primary blog instead of my old Friendster blog. Hope you enjoy it.

- B. Adi Nugroho -

Categories